Trekking Pulau Sempu (3)

Cerita di Pulau Sempu ini adalah bagian ketiga (terakhir)  dari jalan-jalan kami di Jawa Timur. 

Kami memutuskan sewa mobil untuk pergi ke Sempu karena setelah kami hitung-hitung perjalanan ke sana akan menghabiskan waktu sehari penuh. Bisa dipastikan tidak ada angkutan umum dari sana ke kota Malang.  Mobil ini sudah kami booking dari Jakarta.  Termasuk bensin dan jasa supir, biayanya Rp 450.000. 

Pukul 6 lewat kami dijemput di penginapan.  Karena sarapan belum siap, kami diantar Mas Supir (lupa namanya) ke Bubur Ayam Tasikmalaya Abah Odil di jalan Soekarno-Hatta.  Tempat ini cukup terkenal di Malang.  Tentu saja makanan ini halal.  Bahkan ada jadual pengajian yang ditempel di pintunya.  Oh ya tempat ini juga jual sari apel.  Hanya, ga sempat cobain karena botolnya tidak bisa dibawa.  Mau diminum langsung masih kenyang.

Habis makan ngantuk.  Ketika terbangun kami sudah mulai melewati jalan menanjak dan berliku menuju Desa Sendangbiru.  Pukul 09.15 kami sampai di sana.  Pengunjung dikenai Dana Pembangunan Desa Sendangbiru (berdasarkan keputusan rapat tokoh adat) Rp 1000 per orang.  Karcit Tanda Masuk Rp 5000 per orang dan Rp 2000 karcis Masuk Roda Empat tertanda Perum Perhutani Unit II Jatim.  Kemudian Dana Pembangunan Desa Sendangbiru untuk Penitipan Pengawasan Kendaraan Mobil (Rp 5000). 

Menurut petunjuk Penjaga toilet umum, kami bisa tanya ke seorang Bapak yang sedang duduk di motor dekat perahu kalau mau sewa perahu ke pulau.  Bapak itu bilang Rp 100.000.  Kami coba tawar karena kami cuma berdua.  Bapak itu ga merespon.  Ya sudah kami mundur dulu ga usah maksa.  Di dekat situ ada rombongan cowok muda yang juga mau ke sana.  Kami mendekati mereka dan ngobrol-ngobrol.  Maksudnya mau minta bareng biar bisa berbagi (baca:biar murah).

Salah satu dari mereka minta kami ke Pos Penjaga karena di sana temannya sedang mengurus  izin masuk ke Pulau Sempu.  Oh ya pulau ini memang bukan tempat wisata tapi wilayah konservasi.  Tapi kami janji kok tidak akan nakal.  Sampai Pos Penjaga, Dariko ngobrol sama anak muda yang dimaksud.  Dia setuju kami ikut rombongannya.  Dariko sempat tanya apa kami berdua harus buat surat izin sendiri.  Katanya ga usah karena sudah ikut rombongan dia.  Ya sudah kami pun berjalan kembali ke tempat semula.

Sebelumnya, kami sewa sepatu khusus trekking sepasang Rp 10.000 di sebelah kantor itu.  Tadinya ga mau sewa sepatu karena sudah pakai sepatu kets.  Tapi karena kemarin seharian hujan pasti becek sekali dan sepatu kami bakal kotor sekotor-kotornya.  Malas bayangin harus bersihin sepatu yang kotor dan pastinya basah.  Ternyata sepatu trekking itu sangat membantu.  Bukan saja menyelamatkan sepatu kami dari basah dan kotor, tapi juga berguna selama perjalanan.  Jadi, sangat dianjurkan sewa sepatu ini.

Langsung berangkat? Tidak.  Urusan perahu dan guide belum selesai.  Jadi, ada 8 cowok, kami berdua, dan sepasang muda-mudi (haduh, apa ya bilangnya.  Awalnya aku pikir suami-istri, tapi sepertinya bukan).  Namanya Sari dan Bangkit.  Datang dari Jakarta juga.  Pemilik kapal tidak mau kalau kami sekaligus dalam satu rombongan.  Katanya hanya bisa 10 orang.  Rombongan akhirnya dibagi dua, kami bersama Sari dan Bangkit.  Dan guide untuk masing-masing kelompok.    Jadi, Sari dan Bangkit bayar perahu Rp 100.000, sedang kami bayar RP 100.000 untuk jasa guide.  Kami putuskan untuk menggunakan jasa guide biar lebih mudah dan cepat.  Sekaligus berbagi pada sesama. 

Pukul 10.10 perahu mulai mengarah ke pulau.  Hanya sekitar 10 menit. 

menuju pulau sempu

menuju pulau sempu

Bismillah trekking pun dimulai.  Di langkah-langkah pertama aku masih agak bingung.  Pemandu bilang untuk melangkah pendek-pendek saja dan jangan injak akar kayu karena licin.  Lebih baik injak tanah dan kalau bisa pilih yang agak keras.  Kalau ga ada ya terpaksa masuk lumpur.  Tapi gpp berkat sepatu itu walau masuk lumpur tidak licin untuk melangkah lagi.  Kepeleset? Pastilah.  Aku kepeleset beberapa kali tapi masih bisa jaga keseimbangan.

lumpur dan sepatu trekking itu...

lumpur dan sepatu trekking itu…

Alhamdulillah hari itu tidak hujan.  Sinar matahari menembus celah-celah pohon.  Sempat juga menikmati suara burung.  Keringatan tapi senang.  Tetap fokus dan atur nafas.  Di perjalanan kami bertemu beberapa kelompok yang hendak pulang.  Aku tidak mau bertanya berapa jauh lagi.  Nikmati saja perjalanannya. 

tanda-tanda alam...

tanda-tanda alam…

Paling senang kalau jalannya datar.  Apalagi turunan.  Kami sempat berhenti untuk istirahat dan minum beberapa kali.  Karena kami berempat pakai sepatu trekking itu, perjalanan kami relatif lebih cepat dibanding 8 cowok tadi.  Mereka harus saling menunggu karena ada yang kepeleset, jatuh dan sulit mengangkat kaki yang terperosok lumpur.

dengan Sari

dengan Sari

Si Uda sempat kelaparan.  Alhamdulillah kami bawa coklat Sneakers kesayangan si Uda.  Sambil jalan pelan-pelan kami mengulum coklat karamel itu.  Alhamdulillah cukup membantu.   Waduh air dalam botol kemasan sudah mau habis.  Harus dihemat untuk perjalanan pulang nanti.  Kami juga tidak membawa bekal makan siang karena tidak sempat mampir di warung tadi.

Yang seru juga selain menghadapi lumpur adalah, ketika kami harus berjalan di pinggir tebing dan berpegangan pohon sementara di sebelah kami laut atau laguna.  Kayaknya ga terlalu dalam tapi tetap saja ngeri.  Ini adalah jalan satu-satunya menuju laguna Segara Anakan.  Menjelang laguna, Pak Kasim, pemandu kami sempat mengambil video langkah kami yang hati-hati menyusuri jalan itu. 

ayoo dikit lagi!

ayoo dikit lagi!

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di laguna. 

beberapa saat sebelum tiba di laguna segara anakan

beberapa saat sebelum tiba di laguna segara anakan

laguna dari arah tebing karang

laguna dari arah tebing karang

Kami berenang dan snorkling.  Sengaja tidak mau terlalu capek karena kami harus menempuh jalan pulang selama 2 jam lagi.  Dan ingat tidak bawa makan siang jadi harus hemat energi. 

dari lubang itu air laut masuk laguna...

dari lubang itu air laut masuk laguna…

tuh, ada ikan kecil2!

tuh, ada ikan kecil2!

Juga sempat naik tebing di dekat situ.  Lagi-lagi sepatu itu berguna untuk naik dan jalan di atas batu karang.

tebing karang

don't look down!

don’t look down!

Sekitar satu jam berada di sana kami siap-siap berjalan pulang.  Terasa lebih cepat, seperti biasa.  Tapi tetap saja jalan berlumpur itu adalah tantangan yang harus dihadapi.  Aku memandang 2 hingga 3 meter ke depan.  Wow lumpur diselingi akar kayu.  Tidak ada tanah keringnya.  Hmmm berat ya.   Kemudian aku membatasi pandanganku hingga 50 cm saja dan berjalan pelan-pelan.  Subhanallah terasa mudah dan berhasil dilewati.  Pelajaran kehidupan siang itu adalah:  Kesulitan apa pun itu, kalau dijalani dengan pelan dan yakin, InsyaAllah bisa dilalui. 

Akhirnya selesai juga trekking kami.  Karena sore itu air pasang, kami harus berjalan sekitar 20 meter menuju kapal.  Alhamdulillah kami berempat sehat dan selamat. 

air pasang...

air pasang…

Setelah mandi dan bilas kami langsung pulang.  Dan dadah juga sama Sari dan Bangkit.  Aku sempat menawarkan Sari untuk bareng ke Malang tapi ternyata mereka naik motor.  Makan siang (sekaligus malam) di dalam mobil.  Sekitar pukul 18.45 kami sampai di penginapan. Sekali lagi mandi dan bilas.  Kucek,  jemur, dan lipat sana sini.  Sebelum tidur kami pesan travel ke Surabaya buat besok siang.

About these ads

Leave a comment

Filed under jalan-jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s